Plt Direktur RSUD Langsa Diduga Pilih Kasih dalam Pembagian Amplop kepada Wartawan
LANGSA –media lbh Wartawan
Dugaan perlakuan pilih kasih dalam hubungan dengan insan pers mencuat di lingkungan RSUD Langsa. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur rumah sakit tersebut disebut-sebut hanya memberikan amplop kepada wartawan tertentu, sementara sejumlah wartawan lainnya tidak mendapatkan perlakuan serupa.
Informasi ini berkembang setelah beberapa wartawan di Kota Langsa mengaku kecewa atas pola komunikasi yang dinilai tidak adil dalam pembagian amplop saat kegiatan tertentu di lingkungan rumah sakit milik pemerintah daerah tersebut.
Sejumlah sumber menyebutkan, amplop hanya diberikan kepada wartawan yang dianggap dekat, bersahabat, atau selama ini tidak terlalu kritis terhadap kebijakan manajemen rumah sakit. Sementara wartawan yang selama ini aktif melakukan peliputan kritis disebut tidak mendapat bagian.
“Ini jelas menimbulkan kesan diskriminatif. Kalau memang ada pemberian, seharusnya jangan dibeda-bedakan. Jangan karena satu media kritis lalu diperlakukan berbeda,” ujar Burhan seorang wartawan di Langsa yang mengaku kecewa.
Menurutnya, perlakuan semacam itu berpotensi menimbulkan kesan bahwa ada upaya membangun kedekatan hanya dengan media tertentu, sementara media lain yang menjalankan fungsi kontrol sosial justru diabaikan.
Beberapa wartawan juga menilai pola seperti ini dapat merusak hubungan profesional antara lembaga publik dengan pers. Apalagi rumah sakit pemerintah merupakan institusi pelayanan publik yang seharusnya terbuka terhadap kritik dan pengawasan.
“Kalau hanya media yang dianggap aman yang diperhatikan, sementara yang kritis dijauhkan, ini tentu menjadi pertanyaan besar. Karena tugas wartawan bukan mencari kedekatan, tetapi menyampaikan fakta kepada publik,” kata sumber lain.
Hingga berita ini disusun, Plt Direktur RSUD Langsa belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan tersebut. Upaya konfirmasi melalui pesan singkat maupun sambungan telepon juga belum memperoleh jawaban.
Persoalan ini mulai menjadi perbincangan di kalangan wartawan lokal karena dinilai menyangkut etika hubungan kelembagaan dengan media. Sejumlah pihak berharap manajemen rumah sakit dapat memberikan klarifikasi agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas.
Dalam praktik jurnalistik, hubungan antara lembaga publik dan media seharusnya dibangun atas dasar keterbukaan informasi, bukan perlakuan berbeda yang dapat memunculkan persepsi adanya upaya memengaruhi independensi pemberitaan.
Kalangan wartawan di Langsa juga mengingatkan bahwa kritik terhadap institusi publik merupakan bagian dari fungsi pers sebagaimana diatur dalam Dewan Pers, sehingga tidak semestinya menjadi alasan munculnya perlakuan berbeda terhadap media tertentu.
(Tim)














